RADAR BENGKULU - Untuk meraih nilai yang tinggi di program pendidikan kedokteran tidaklah mudah. Sebagian orang berpendapat seperti itu. Tapi tidak dengan Sigit Nur Awalin. Mahasiswa kedokteran Universitas Bengkulu asal Lebong ini tidak sependapat dengan pernyataan tersebut. Menurut Sigit, tidak ada yang susah dalam mencari ilmu. Semua itu tegantung ke pribadi masing-masing, yang terpenting ada kemauan yang tinggi untuk menuntut ilmu.
Mahasiswa yang masuk jalur beasiswa ikatan dinas Lebong ini, bisa meraih peringkat empat besar nilai tertinggi dalam program pendidikan kedokteran Universitas Bengkulu. Untuk mencapai itu bukanlah hal yang mudah. Buah hati pasangan dari Karso, S.Pd dan Sujiyah ini mempunyai trik tersendiri agar dapat menoreh prestasi. Selain rajin membaca buku, setiap habis mendapatkan teori di bangku kuliah harus diulang-ulang sampai dimengerti. Buku yang dibaca bukan hanya satu atau dua buku. Melainkan mencari sebanyak-banyak sumber untuk menunjang pendidikan.
“Yang jelas itu kita rajin membaca. Dan materi yang baru kita dapat diulang-ulang, serta banyak mempelajari hal-hal yang baru,” jelas Alumni SMAN 1 Lebong Utara ini.
Namun, Sigit menyesalkan masih minimnya buku kedokteran di Bengkulu ini. “Dikit sekali buku yang dapat kita peroleh. Jadi kalau mau buku terpaksa dulu kita pesan ke Jakarta,” jelas pria yang baru berumur 19 tahun.
Pemuda kelahiran Lebong 14 April 1991 memang dari awal telah bercita-cita menjadi dokter. Begitu mendengar Pemerintah Daerah (Pemda) Lebong menawarkan beasiswa untuk pendidikan kedokteran Unib, Sigit pun dengan semangat mengikutinya. Setelah lulus tes administrasi dengan melihat nilai-nilai dari SD sampai dengan SMA. Setelah lulus tes administrasi kemudian melanjut tes Ujian Masuk (UM) yang diadakan di Unib. Dari ke 40 peserta yang diutus dari Lebong akhirnya Sigit masuk kedalam 10 besar.
Sementara itu daerah-daerah yang mengutus putra-putri daerah yang terbaik untuk diberi kesempatan kuliah di pendidikan kedokteran antara lain: Lebong, Bengkulu Utara, Kaur, Kepahiang, Kota dan Bengkulu Tengah. Dari 47 mahasiswa kedokteran angkatan pertama ada 24 orang yang memperoleh beasiswa. Sementara ini IPK tertinggi di pendidikan kedokteran ini 3,36. Sedangkan Sigit bisa meraih IPK 3,26.
Ditambahkan Sigit mahasiswa angkatan 2009 ini, cara belajar yang diterapkan pada pendidikan kedokteran berbeda dengan pendidikan lain. Di pendidikan kedokteran kita belajar setiap hari Senin sampai dengan Jumat dari pukul 08.00 pagi hingga 16.00 WIB. “Jadi kita belajar sangat diporsir sekali, dan tergantung kita untuk bisa membagi waktu antara belajar dengan santai,” tambah pemuda yang bercita-cita menjadi dokter anak ini. (cw14)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar