Jarak Anak Dekat, Pengaruhi Gizi Buruk
RADAR BENGKULU – Salah satu penyebab terjadinya gizi buruk adalah karena pengaruh jarak antar anak. Pasalnya, dengan kondisi anak yang begitu dekat membuat ibu dan anak akan mengalami kekurangan gizi yang bisa berujung dengan gizi buruk. Hal ini diungkapkan oleh ketua jurusan gizi Poltekkes Bengkulu, Toni C. Maigoda, SKM, MA.
“Saya banyak menemui ibu-ibu yang jarak antar anak pertama dengan kedua sangat dekat. Dengan kondisi seperti ini bagaimana asupan gizi ibu tersebut dapat dipenuhi. Sedangkan wanita yang sedang hamil atau menyusui pola makannya harus ditingkatkan dari biasanya. Mungkin istirahat saja ibu tersebut kurang, apalagi mau memperhatikan gizi untuk dirinya sendiri, janin serta anaknya yang masih bayi. Oleh karena itu, untuk menghindari kurang gizi pada anak hendaknya merenggangkan jarak anak,” kata Toni kepada Radar Bengkulu, Kamis (25/11).
Dijelaskan Toni, usia yang rentan terkena gizi buruk adalah pada usia 5 tahun kebawah. Apabila ada keterlambatan untuk mengatasi kekurangan gizi tersebut akan membawa dampak terhadap perkembangan otak anak tersebut. “Biasanya bayi yang sudah terkena gizi buruk sewaktu bayi IQ nya tidak akan sempurna, artinya anak tersebut tidak cerdas,” tambah Toni.
Lebih lanjut dikata, ada dua macam tipe gizi buruk. Yakni, marasmus dan kwashiorkor. Untuk marasmus adalah anak yang kekurangan gizi akibat kekurangan karbohidrat. Tanda-tanda awalnya, badannya tampak kurus, sifatnya berubah menjadi rewel dan cengeng serta perut cekung. Sedangkan untuk kwashiorkor yaitu anak yang kekurangan gizi akibat kekurangan protein. Tanda-tanda awal penderita kwashiorkor berupa wajah membulat, rambut rontok, pandangan mata sayu, serta ada perubahan status mental.
“Kalau anak sudah terkena penyakit kurang gizi, maka anak tersebut akan rentan terkena penyakit lainnya. Sebab kunci kesehatan itu adalah makanan yang kita konsumsi dalam sehari-hari,” kata Toni.
Sedangkan faktor gizi buruk adalah karena faktor sosial ekonomi, dimana asupan gizi yang dikonsumsi anak tidak masuk kategori empat sehat lima sempurna. Selain itu rendahnya tingkat pendidikan, dan lingkungan. “Masih banyak yang belum paham sewaktu hamil butuh gizi yang seimbang, karena sebagian masyarakat yang pengetahuannya tentang pola sehat ibu hamil yang minim sehingga bisa melahirkan bayi yang kurang normal,” papar Toni. (cw14)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar