RADAR BENGKULU – Pedagang kaki lima yang berjualan di deretan Pasar Minggu tepatnya di Jl KZ Abidin sangat tersiksa dengan adanya pengusiran yang dilakukan pihak terkait. Walaupun pedagang ini sering mengalami pengusiran, namun mereka tetap berjualan dan tidak membuat jera para pedagang. Untuk tetap aman, pedagang kaki lima ini bisa membaca situasi aparat.
Apabila ada pengusiran, biasanya para pedagang ini masuk ke dalam Pasar Minggu. Setelah merasa aman baru mereka kembali beraktivitas seperti biasa. Yaitu berjualan di pinggiran jalan.
Pedagang yang berjualan di deretan pasar Minggu ini sangat mengganggu aktivitas lainnya. Seperti membuat jalan tambah sempit, hingga membuat jalan macet. Karena mereka berjualan tak teratur. Barang dagangan yang mereka jual juga bervariasi. Mulai dari penjual ikan laut, sejenis sayur mayur, dan bahan sembako lainnya. Mayoritas orang yang berjualan disini adalah orang lama dan ada yang sampai 6 tahun.
Sebenarnya para pedagang ini sadar akan kesalahan mereka. Dan pedagang ini tidak ingin main “kucing-kucingan” dengan pihak yang terkait. Tapi karena tuntutan ekonomi yang menghimpit keluarga mereka, serta tidak mempunyai pilihan lagi. Untuk mengatasi masalah ini, mereka mengharapkan kepada pemerintah sebelum ada pengusiran seharusnya sediakan tempat dulu buat pedagang kaki lima.
Seperti yang dituturkan Edy (28) salah satu pedagang kaki lima yang berjualan ikan laut. “Kami hanya mengharapkan sebelum kami diusir seharusnya kami dikasih tempat untuk berjualan. Kalau tempat sudah dikasih sama pedagang kaki lima otomatis kami tidak akan berjualan disini,” jelas Edy kepada Radar Bengkulu (18/10).
Edy sangat menyesalkan kepada pemerintah karena belum ada yang memperjuangkan hak-hak pedagang. Sehingga mereka tidak mempunyai tempat tetap untuk berjualan. Dari jualan ikan setiap hari, Edy hanya bisa mendapatkan penghasilan Rp 50 ribu. “Sebenarnya kalau masalah pembeli sepi itu biasa dalam jual beli. Tapi yang kami sesalkan hanya masalah tempat,” tambah pedagang asal Pagar Alam ini.
Senada juga ditambahkan Beny (32). Semua pedagang kaki lima hanya menginginkan tempat tetap agar mereka bisa berjualan secara aman. Selain itu Beny juga menyesalkan besarnya uang kontrakan untuk tempat berjualan di dalam pasar Minggu. Untuk ukuran 1x1 meter harganya mencapai Rp 1 juta. “Bukan kami nggak mau ngontrak, tapi mahal nian. Jadi kami belum ada duit buat ngontrak,” jelas Beny. (cw14)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar