oke deh

Gayus Akui Terima $3,5 Juta dari Alif Kuncoro Pengacara KPC, Aji Wijaya, "Itu kan hanya pengakuan Gayus. Dalam hukum berlaku prinsip siapa yang mendalilkan, dia yang harus membuktikan." BERITA TERKAIT Gayus Tambunan Berharap Bebas Gayus Tambunan Menyesal 'Salah Jalan'

Senin, 08 November 2010

Profil Lurah Tanjung Jaya
B. Arasman
RADAR BENGKULU – Banjir tidak hanya dikeluhkan lurah Tanjung Agung, tetapi juga dirasakan lurah Tanjung Jaya, B. Arasman. Menurut lurah ini, untuk meminamilisir banjir sebenarnya bisa dilakukan dengan mengoptimalkan fungsi pintu air. Alasannya, pintu air tersebut belum berjalan semestinya. Tidak heran kalau banjir melanda kelurahan Tanjung Jaya karena banyak sekali sampah yang menghambat lancarnya pengaliran air.
“Kalau saya perhatikan, banyak sekali sampah di pintu air. Saya rasa kalau pintu air tersebut bersih dari sampah, setidaknya kita bisa meminamilisir banjir,” terang B. Arasman kepada Radar Bengkulu, Rabu (3/11).
Ditambahkan pria kelahiran Bengkulu, 01 Juni 1962 ini kalau masalah pembersihan pintu air bisa saja melibatkan warga setempat. Namun, sampai saat ini dinas terkait belum mengeluarkan kebijakan untuk mengoptimalkan fungsi pintu air tersebut. “Kalau seandainya ada gotong royong antara warga dengan dinas terkait untuk membersihkan sampah tersebut, saya rasa warga Tanjung Jaya akan mau kerjasama,” tambahnya.
Sebenarnya bapak 3 anak ini sangat prihatin dengan kondisi warga yang setiap tahun pasti mengalami kebanjiran. Kadang bisa sampai 3 kali dalam setahun. Namun, untuk tetap menjaga keamanan warga ketika banjir, dia sengaja kerjasama dengan pihak kepolisian. Sebab, ketika warga mendapatkan musibah ada beberapa oknum yang mengambil kesempatan dalam kesempitan. Jadi, dia mengimbau agar masyarakat mengamankan barang-barang yang berharga, termasuk juga hewan ternak.
Diharapkan pria yang menjabat lurah Tanjung Jaya dari Juni 2008 lalu ini, sebaiknya pemerintah lebih memperhatikan warga Tanjung Jaya. Walaupun dalam banjir tersebut tidak memakan korban, tapi warga tersebut sangat tersiksa. Karena warga juga telah korban waktu dan tenaga. Ketika banjir, warga yang seharusnya bekerja tidak dapat masuk kerja. Dan setelah banjir usai, warga sibuk membersihkan rumah dari lumpur.
“Walaupun banjir disini tidak pernah memakan korban, tapi setidaknya warga disini memakan waktu dan tenaga warga. Tidak hanya itu, para petani juga terancam panen karena sawah mereka telah terngenang air,” terangnya lagi. (cw14)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar