RADAR BENGKULU – Karena sepi dan jarang pembeli, para pedagang ikan yang menggelar dagangannya di pinggir pantai Pasar Bengkulu membutuhkan bantuan modal agar usaha mereka itu bisa lebih maju. Sebab saat ini, yang membeli hanyalah orang-orang yang kebetulan lewat di pantai itu.
Salah seorang pedagang, Hamzuri (55) mengatakan lokasi berdagang mereka yang bukan pasar induk, membuat tempat mereka berdagang itu bukan menjadi tujuan pembeli. Bahkan, dikatakannya kebanyakan masyarakat Kota Bengkulu juga tidak tahu jika di Pasar Bengkulu ada penjual ikan laut segar. “Di sini jauh dari keramaian, orang yang belanja ke sini biasanya orang yang sekalian lewat. Jadi kami hanya menjual ikan di jam-jam tertentu saja. Kalau ada modal kami bisa berdagang lebih lama,” ungkapnya dengan harap.
Dia juga menjelaskan mayoritas pedagang di Kelurahan Pasar Bengkulu adalah orang Bengkulu asli sebab tanah yang dijadikan tempat mereka berdagang itu adalah milik mereka, yang kemudian dibangun pemerintah untuk pembangunan jalan. “Semua pedagang ikan disini orang Bengkulu asli, karena tanah ini dulu milik keluarga kami. Jadi layak kami menempati tanah ini,” tutur Hamzuri.
Menurut Hamzuri, pendapatannya sehari-hari sangat tergantung pada alam. Sebab, bila badai mereka tak bisa menangkap ikan di laut, dan tidak ada ikan yang dijual. Saat ini? “Kalau saat ini, saya hanya jual ikan tenggiri dan kerapu saja. Karena untuk menangkap ikan jenis lainnya cukup sulit apalagi di musim badai seperti saat ini,” jelasnya.
Hamzuri menilai masyarakat Bengkulu kurang berminat mengkonsumsi ikan kerapu dan tenggiri. Karena harga dua jenis ikan itu tergolong mahal, yakni mencapai Rp 45 ribu per kilogram. “sekarang ini bapak hanya menjual dua macam ikan saja, karena sudah beberapa hari ini hujan terus. Tapi biasanya pembeli ikan ini orang-orang Cina, sangat jarang sekali ada orang Bengkulu yang membelinya,” katanya.
Berbeda dengan pedagang ikan lainnya yang ada di pasar induk, pedagang ikan ini biasanya buka dua kali dalam sehari. Yaitu pukul 8 sampai 10 pagi. Setelah istirahat, maka dibuka lagi sekitar pukul 2 siang sampai 6 sore. “Namanya juga di sini tempat wisata, jadi ada jam-jam tertentu ramai. Pagi juga ramai karena orang mau masak, kalau siang percuma saja buka karena sepi sekali. Terus jam 2 siang sampai sore juga biasanya ramai, apalagi hari Sabtu dan Minggu,” ujar Hamzuri.(cw14)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar