RADAR BENGKULU – Jika pedagang yang menggunakan lapak permanen dan terpusat di pusat perbelanjaan yang menggantungkan keuntungannya dengan ramainya pengunjung, maka lain halnya dengan, Nurhayati (57) yang berprofesi sebagai Pedagang Kaki Lima (PKL) di Jalan KZ Abidin 1. Dia justru menggantungkan keuntungannya dengan cuaca, sebab pedagang asal Padang ini berjualan minuman dingin, seperti es timun, orange asam dan pop ice.
“kalau pedagang es tergantung cuaca. Kalau cuaca bagus biasanya kami dapat untung banyak, tetapi kalau cuaca buruk kadang-kadang balik modal saja tidak,” tutur Nurhayati kepada Radar Bengkulu.
Sebenarnya ibu empat anak ini sangat berat menjalankan aktivitasnya sebagai pedagang minuman. Akan tetapi, apa boleh dikata demi memenuhi kebutuhan ekonominya, dia terpaksa berjualan. “berat sekali sih, mana ibu sudah tua. Tapi kalau ibu tidak jualan bagaimana mau menyambung hidup,” ungkapnya dengan sedih
Ditambahkannya mereka biasanya akan mendapatkann keuntungan lebih jika hari libur atau hari Minggu. Dia juga mengatakan kalau perekonomian sekarang susah. Bukan hanya dari golongan kecil saja yang mengalami kesulitan ekonomi, tapi menurut Nurhayati, golongan atas juga merasakan krisis ekonomi. “Buktinya saja pembeli sepi sekali, tidak hanya pembeli untuk dagangan kecil seperti ini. Ibu sering memperhatikan juga tempat bakso yang didepan ini, dulu banyak orang yang belanja ke situ. Tapi sekarang sepi sekali ibu lihat. Berarti menurut ibu bukan hanya kita rakyat kecil yang semakin susah,” jelasnya
Minuman yang disediakan Nurhayati merupakan jenis minuman yang tergolong sederhana. Baik dari cara penyajiannya maupun bahan-bahan minumannya. Sesuai dengan modal yang dikeluarkannya, harga minuman yang ditawarkannya juga tergolong murah yaitu Rp 2500 per gelas. Namun untuk minuman bungkusan seperti pop ice harga yang ditawarkannya Rp 4 ribu per bungkus. (cw14)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar